Bunda, Mari Tengok Keterampilan yang Diperlukan untuk Generasi Alpha ini!

Hai, Bunda, kalau Bunda mengamati putra atau putri Bunda begitu cepat memahami gadget dan piranti teknologi lain di rumah, dan putra-putri Bunda seperti selalu ingin sibuk dengan perangkat teknologinya, jangan khawatir, Bun, karena memang demikianlah generasi Alpha, anak-anak yang lahir di tengah-tengah zaman dengan perkembangan teknologi yang pesat. Wajar, jika Bunda mungkin khawatir dengan perkembangan si kecil, khawatir jika-jika si kecil jadi lambat bersosialisasi dan sulit menjalin pertemanan, khawatir si kecil akan tumbuh jadi pribadi yang cuek dan seenaknya sendiri. Oleh karena itu, Bunda perlu tahu keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan pada si kecil sehingga, alih-alih dipaksa untuk terasing dengan teknologi, si kecil bisa dilatih dan dididik keterampilan-keterampilan ini sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang cemerlang tanpa perlu mengisolasi teknologi dari mereka. Nah, Apa saja keterampilan-keterampilan tersebut? Yuk, simak tulisan ini hingga tanda titik terakhir 

Untuk memahami si kecil ini, kita perlu tahu dulu, Bun, apa itu generasi Alpha, sifat alaminya, dan bagaimana mereka memandang hidup. Generasi Alpha adalah generasi yang lahir pada rentangan tahun 2010 hingga 2025. Jika putra/putri Bunda lahir di rentangan tahun tersebut maka Bunda bisa menganggap si kecil adalah generasi Alpha. Generasi ini adalah generasi yang lahir di lautan teknologi, maka tak kaget jika mereka sudah mahir menggunakan gadget seperti ipad, smarphone, komputer portable dsb, karena mereka memang telah familier dengan teknologi-teknologi tersebut sejak lahir. Dan ini bukan berita buruk lho, Bun. Ini bisa menjadi berita yang amat baik, jika kita bisa menyikapinya dengan bijaksana.

Bagaimanapun, anak-anak yang lahir di tahun-tahun itulah yang akan menggerakkan dan melanjutkan roda peradaban, merekalah sang putra/putri mahkota. Kita, orang tua, tidak akan hidup selamanya. Maka dari itu, yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan si kecil sebaik mungkin untuk menjadi manusia yang cemerlang di masa depan, dan itu bukan dengan mencabut mereka dari sifat asli mereka: akrab dengan teknologi.

Bunda tentu merasakan bagaimana hidup yang semakin cepat sejak teknologi sampai pada keadaannya yang makin maju. Kita yang dulu perlu berhari-hari untuk bertukar kabar dengan kerabat jauh melalui bantuan Pak Pos, sekarang cukup dengan satu sentuhan jempol, voila, pesan kita telah sampai di tujuan. Selain itu, Bunda tentu juga merasakan, bagaimana teknologi telah memungkinkan banyak pekerjaan dapat difasilitasi oleh satu perangkat saja; kita bisa membaca artikel sambil mendengarkan musik dari satu perangkat bernama ponsel pintar. Kita dapat menulis, menggambar, memproduksi video, memproduksi musik, berhitung, dan bahkan menonton film menggunakan satu perangkat saja bernama komputer. Selain kecepatan, teknologi memungkinkan multitasking, dan pada dua sifat inilah si kecil jadi terbiasa. Martin Kureda, seroang antropolog Amerika dari Universitas Teknologi Massasuceht mengatakan, tidak ada yang lebih menyebalkan bagi mereka yang telah terbiasa dengan kecepatan teknologi selain menunggu. Maka, tak perlu marah, Bun, jika si kecil menunjukkan gejala tidak sabaran. Semua bisa diatasi, dengan pendekatan yang bijak.

Keterampilan-keterampilan yang perlu dikuasi oleh si kecil ini akan membantu si kecil menyesuaikan sikap pada realita dengan tuntutan kecepatan dan multitasking yang terbentuk karena interaksi mereka dengan teknologi yang intens. Nah, berikut inilah keterampilan-keterampilan tersebut:

1. Keterampilan memperbaiki

Hidup dengan kemudahan teknologi, secara tak sadar, dapat membuat anak menjadi begitu manja. Jika tidak ditangani dengan baik, anak akan menjadi sosok yang kurang memiliki kreatifitas bertahan hidup. Ketika barangnya rusak, ia akan melemparkannya dan berpikir untuk membeli yang baru. Maka dari itu, mengajak anak untuk terlibat pada projek-projek kecil yang sifatnya membangun atau menyusun bisa menjadi pilihan Bunda dalam mengajari keterampilan memperbaik pada si kecil.

Sebagai ilustrasi, bayangkan saja sepeda si kecil sedang rusak. Maka, yang perlu dilakukan adalah mengajak anak untuk memperbaiki sepedanya bersama. Dengan demikian, si anak akan mengalami proses memperbaiki dan membangun kembali sesuatu dari yang sebelumnya tidak berfungsi menjadi berfungsi kembali. Selain melatih motoric halus si anak, kegiatan ini dapat mengajarkan pada anak, bahwa tiap hal pasti melalui proses dan sistematika yang logis. Si anak akan menjadi paham, bahwa untuk memfungsikan sebuah sepeda, diperlukan komponen-komponen serta penempatanan komponen-komponen tersebut pada alur mekanis sepeda. Secara tidak langsung, kita telah mengajari si anak tentang kesabaran dalam sebuah proses, logika mekanis, motoric halus, dengan cara yang asik. Ini hanya salah satu contoh, dan Bunda bisa menerapkannya dalam hal lain, seperti memperbaiki radio, atau benda-benda lain.

Dan perlu dicatat, Bun. Biarkan si kecil membuat kesalahan. Karena melalui kesalahan itulah si kecil belajar. Tugas kita, orang tua, hanya mengarahkan dan memberi apresiasi ketika projek memperbaikinya berhasil 

2. Keterampilan bekerjasama

Memang tak bisa dipungkiri, kehadiran teknologi membuat interaksi sosial antar manusia berkurang. Berurusan dengan mesin lebih cepat ketimbang berurusan dengan sesama manusia. Namun bagaimanapun, ada hal-hal yang tak tergantikan dari interaksi sosial sesama manusia. Dan anak-anak yang lahir dengan perangkat-perangkat teknologi canggih di sekitarnya, tentu perlu diberi perhatian khusus terkait keterampilan bekerjasama dengan orang lain.

Dalam bekerjasama, cara terbaik adalah untuk mengetahui potensi dan kekurangan si anak terlebih dahulu, baru menerjunkannya dalam interaksi sosial bersama anak-anak lain. Maka dengan demikian, anak bisa mengartikulasikan potensi dan kemampuannya dalam suatu tatanan interaksi dengan maksimal. Salah satu cara yang bisa Bunda lakukan adalah dengan memberikan anak projek kecil di rumah. Projek-projek kecil ini disesuaikan dengan potensi anak. Misal anak memiliki ketertarikan pada seni visual, maka cukup berikan anak kepercayaan untuk memberikan pendapat terkait dekorasi rumah, atau setidaknya kamarnya sendiri. Dengan demikian, secara tidak langsung anak belajar bekerjasama dengan kita, penghuni rumah yang lain.

Dimulai dengan bekerjasama dengan penghuni rumah lain, anak dapat belajar bertanggungjawab, berdiskusi, dan menghargai pendapat orang lain. Tiga hal yang akan sangat membantu anak dalam proses interaksi sosial anak ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang lain di luar rumah.

3. Keterampilan menulis atau bercerita

Sifat teknologi yang multitasking, atau dapat mengerjakan banyak hal dalam satu perangkat atau satu waktu, sadar atau tidak turut membentuk cara kerja berpikir anak yang lahir di tengah-tengahnya. Maka dari itu, anak yang termasuk pada generasi alpha memiliki kekuatan untuk mengerjakan banyak hal dalam satu periode waktu. Selain itu, teknologi yang serba bisa ini juga memungkinkan anak mendapatkan berbagai macam jenis informasi dalam satu waktu. Namun, hal ini memiliki konsekuensi yakni tingkat fokus yang menjadi rendah.

Dengan melatih anak menulis atau bercerita, anak akan belajar untuk menata alur gagasan dan menyeleksi informasi di kepalanya untuk menciptakan sebuah baris kalimat cerita. Trik ini akan sangat membantu dalam mengatasi masalah fokus anak. Karena, dengan menyusun sebuah cerita, mau tidak mau, anak harus menaruh fokusnya pada gagasan yang hendak ia sampaikan, dan merapikan banyaknya informasi di kepalanya menjadi satu paragraph cerita yang utuh.

4. Keterampilan motoric kasar

Bunda, jangan lupa untuk melatih keterampilan motoric kasar si kecil. Si kecil yang telah pandai bermain gawai sejak kecil, jelas punya kecenderungan berdiam diri di rumah sambil memainkan gawainya. Oleh karena itu, mengajak si kecil untuk sesekali bermain keluar rumah, menciptakan petualangan-petualangan kecil bagi si kecil di luar, akan membantu si kecil untuk melemaskan otot-otot dan persendiannya.

Ajak si kecil rutin lari pagi, atau ajak si kecil piknik tiap akhir pekan. Karanglah cerita-cerita yang menakjubkan tentang dunia luar, buat si kecil menginginkan dan penasaran dengan dunia di luar layar smarphonenya, dengan begitu, si kecil akan dengan senang hati menggerakkan otot-ototnya untuk berkeringat di luar rumah.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Siap Bermain!